Harga-harga semakin mahal, biaya pendidikan juga mahal...,

Untuk membantu kebutuhan rumah tangga, Ibu Yuni ingin punya penghasilan sendiri.
Suatu keinginan yang wajar dan dipunyai oleh kebanyakan wanita lainnya.
Ibu Yuni mencoba belajar jahit, mencoba membuat aksesoris kecil dari kain flanel.
Ada yang berupa bunga, huruf-huruf dlsb.
Aksesoris tersebut dijual sendiri dan ada yang dititipkan di tempat kenalan yang juga punya usaha.

Pada suatu hari, ada sebuah iklan di sebuah tabloid wanita tentang peluang usaha berjualan mainan edukatif, dengan modal yang tidak perlu terlalu besar.
Bu Yuni lalu menghubungi peluang usaha tersebut dan mencoba untuk berjualan mainan edukatif.

Seperti kebanyakan pedagang kecil lainnya, masalah yang dihadapi adalah keterbatasan modal.
Walaupun demikian hal tersebut tidak menghalangi keinginan ibu Yuni untuk berusaha.
Keinginan berjualan ada, tetapi modal untuk menyewa toko tidak ada.

Langkah awal berdagang adalah gelar lapak. Tanpa tanda kutip.
Maksud dari kalimat ini ya sesuai dengan gabungan kata-katanya. Tidak usah dipikir terlalu jauh.

Gelar lapak adalah salah satu cara agar orang tahu bahwa kita berjualan dan mengenal produk kita.
Gelar lapak bisa di depan rumah, di bazar mesjid, di pasar kaget dll.
ibu Yuni tahu cara lain untuk jualan tentunya di toko, tapi kalau toko belum ada ..... lalu bagaimana.....?
Jika harus menunggu punya uang untuk menyewa toko, ....kelamaan .... kapan usahanya?..

Yang namanya usaha kan, orang atau pembeli perlu tahu usaha dan produk kita.
Tidak lama-lama berpikir, ibu Yuni kemudian mengelar lapaknya di air mancur taman Yasmin Bogor.
Awalnya susah juga cari lapak, selain itu juga ada sedikit rasa malu.
Kok ibu Yuni jualan kaki lima sih.......

Tetapi, seperti yang Lao-tzu (604 BC - 531 BC) katakan,
"A journey of a thousand miles begins with a single step."
Seribu langkah dimulai dari satu langkah...!

Belum bisa melangkah, ibu Yuni mulai dengan merangkak.
Ibu Yuni mulai merangkak dengan mengelar lapak.
Dari berjualan kaki lima ini, ibu Yuni mendapat banyak hal dan pengalaman.

Ibu Yuni juga keliling TK dan play group di kota Bogor.
Selain itu ibu Yuni juga gelar lapak di internet.

Awalnya melalui subdomain suatu situs (Sekarang domain tersebut sudah tutup),
kemudian di blogspot http://kikaedutoys.blogspot.com/

Jaman sekarang, sudah lebih mudah membuat situs untuk promosi mengenalkan produk kita.
Bisa dimulai dengan yang gratisan dulu, seperti, www.blogspot.com, www.multiply.com dlsb.

Kemudian Ibu Yuni mencoba mendaftarkan merek KIKA TOYS untuk merek dagangnya,
ternyata merek KIKA sudah ada yang mendaftarkan duluan....
Kemudian Ibu Yuni mencoba mendaftarkan merek OMOCHA  di Depkumham.

Setelah merek Omocha selesai ibu Yuni daftarkan,
situs ibu Yuni berubah menjadi http://www.omochatoys.com
Ibu Yuni mendaftarkan merek Omocha pada dua kategori yaitu kategori jasa dan merek dagang.

Ibu Yuni sangat menganjurkan (Strong Recommendation) pada wiraswasta lain yang mempunyai merek, agar SEGERA MENDAFTARKAN MEREK nya. Untuk menjaga usaha kita.

Setelah beberapa bulan usaha, dari kaki lima, keliling TK, dan internet, usaha mainan edukatif ibu Yuni mulai berputar.
Ibu Yuni berpikir, penjualan kaki lima di pasar kaget akhir pekan yang hanya beberapa jam saja penjualan lumayan.
Jika bisa punya tempat yang representatif dan bisa berjualan satu hari penuh, barang tentunya bisa lebih berputar.

Seandainya Omocha toys bisa sewa counter di mall, mungkin omset penjualan bisa menutup sewa counter tersebut.
Ibu Yuni kemudian mengusahakan agar bisa menyewa counter di sebuah mall di Bogor.

bersambung....